بسم الله الرحمن الرحيم

Man ana?

product
Selengkapnya...

Index Artikel

product
Selengkapnya...

Jadwal Kajian Terbaru

product
Selengkapnya...

Selasa, November 23, 2010

Hadits-35: Cinta dunia dan takut mati...


عَنْ ثَوْبَانَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنهُ قَالَ :قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى  عَلَيْكُمْ   -زادفي رواية: مِن كُلِّ أُفُقٍ-  كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا. فَقَالَ قَائِلٌ: وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟، قَالَ: بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ، وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ، وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ، وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ. فَقَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ؟، قَالَ: حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ.

Dari Tsauban Radhiyallahu Ta’ala ‘anhu: Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam: “Hampir-hampir ummat-ummat ini memperebutkan kalian (ummat Islam) -dalam riwayat lainnya: dari seluruh penjuru-, layaknya memperebutkan makanan yang berada di mangkuk". Seorang laki-laki bertanya: "Apakah kami waktu itu berjumlah sedikit?", beliau menjawab: "Bahkan jumlah kalian pada waktu itu sangat banyak, namun kalian seperti buih di genangan air dan AllahTa’ala akan mencabut dari dada musuh-musuh kalian rasa takut kepada kalian serta akan menanamkan ke dalam hati kalian Al-Wahn.". Seseorang lalu berkata: "Wahai Rasulullah, apa itu Al-wahn?", beliau menjawab: "Cinta dunia dan takut mati.”. (Dikeluarkan oleh Al-Imam Ahmad Rahimahullahu Ta’ala, 5/278 dan Abu Dawud Rahimahullahu Ta’ala, 4/111 no.4297).

Faidah-faidah yang bisa diambil dari hadits di atas adalah:
  • Perkataan: يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ, menunjukkan sempurnanya kasih sayang dan perhatian Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam atas ummatnya, maka sungguh beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam sangat berhak dengan pen-shifatan Allah Ta’ala atas diri beliau:
 لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ [٩:١٢٨]
Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS At-Taubah:128).
  • Adanya dalil atas benarnya kenabian (Nubuwah) Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam, yakni dengan peng-kabar-an dari beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam atas perkara-perkara ghaib yang akan terjadi pada ummat islam di kemudian hari (sebagaimana hadits ini yang mencocoki dengan keadaan ummat islam sekarang ini,-pen.).
  • Bahwasanya musuh-musuh islam walaupun mereka saling berselisih, akan tetapi sesungguhnya mereka bersepakat dalam memusuhi kaum muslimin.
  • Perkataan: مِن كُلِّ أُفُقٍ, menunjukkan bahwasanya tujuan puncak mereka atas permusuhan terhadap kaum muslimin adalah satu, walaupun tempat-tempat mereka berjauhan dan berbeda-beda arah datangnya.
  • Perkataan: كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا, menunjukkan kepandaian  (sifat balaghah) Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam dalam berbahasa.
  • Bahwasanya membuat permisalan dalam suatu perkara akan menambah jelas perkara yang akan diterangkan.
  • Perkataan: الْأَكَلَةُ, menunjukkan besarnya semangat musuh-musuh islam untuk meraih kemenangan dan membuat tipudaya atas kaum muslimin. Dan pentabiran hal ini dengan lafadz الْأَكَلَةُ  yang bermakna “makanan”, menunjukkan semangatnya para musuh-musuh islam tersebut semisal dengan semangatnya orang-orang yang sedang memperebutkan makanan yang ada dalam satu mangkok.
  • Perkataan: فَقَالَ قَائِلٌ: وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟, menunjukkan semangatnya para shahabat Radhiyallahu Ta’ala ‘anhum untuk mengetahui perkara-perkara yang bermamfa’at bagi mereka dalam rangka untuk menempuh dan melazimi perkara-perkara tersebut, dan untuk mengetahui perkara-perkara yang bisa memudharatkan mereka dalam rangka untuk memperingatkan  dan menjauhinya.
  • Keutamaan zaman para shahabat Radhiyallahu Ta’ala ‘anhum, merekalah manusia-manusia yang paling jauh di dalam perkara mencintai dunia dan takut mati.
  • Perkataan: بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ, menunjukkan bahwasanya jumlah yang banyak tidaklah mempunyai pengaruh bagi pemiliknya sedikitpun, jika mereka terlalu menyandarkan diri kepada hal tersebut tanpa menoleh kepada perkara lainnya.
Dan Allah Ta’ala mencela perkara ini -yakni terlalu bersandar kepada jumlah yang banyak sebagai patokan- tidak hanya dalam satu ayat saja, diantaranya:  “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah…(QS. Al-An’am:116), “Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya.(QS. Al-Furqan:44), “Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman  walaupun kamu sangat menginginkannya.(QS. Yusuf:103), “…dan ingatlah peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun…(QS. At-Taubah:25).
Di sisi  lain, Allah Ta’ala memuji jumlah pengikut yang sedikit -yakni ketika mereka berada dalam perkara-perkara yang bagus- sebagaimana dalam firman-firman-Nya Ta’ala berikut:  “…berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah.(QS. Al-Baqarah:249), “…dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebahagian mereka berbuat zalim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh dan amat sedikitlah mereka ini(QS. Shaad:24), “…dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.(QS. Saba’:13).
KESIMPULANNYA:
Bahwasanya perkara yang terpuji adalah berupa sifat-sifat yang baik, walaupun sedikit pemiliknya. Dan kalau pemilik kebaikan itu berjumlah banyak, maka itu adalah cahaya di atas cahaya (kebaikan di atas kebaikan). Sebaliknya, perkara yang tercela adalah berupa sifat-sifat yang jelek, walaupun banyak pemiliknya. Dan kalau pemilik keburukan itu berjumlah sedikit, maka itu adalah kerak di bawah kerak (keburukan di bawah keburukan).
  • Perkataan: وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ, menunjukkan ketinggian nabawiyyah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam di dalam berbahasa dan mengambil permisalan, seperti yang diucapkan sebelumnya dalam kalimat “…layaknya memperebutkan makanan yang berada di mangkuk…”.
  • Perkataan: وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ, menunjukkan sempurnanya keadilan Allah Ta’ala dan bahwasanya manusialah yang mendzalimi diri-diri mereka sendiri. Maka tidaklah dicabut rasa takut dari dada musuh-musuh mereka, melainkan dikarenakan oleh apa-apa yang diperbuat hati-hati kaum muslimin itu sendiri, dimana hati-hati mereka sudah tidak mempunyai lagi rasa takut kepada Allah Ta’ala.
  • Perkataan: وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ, menunjukkan penguatan sunnah dengan sunnah yang lain. Dan yang semisal dengan ini adalah sebagaimana yang disabdakan  Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dalam hadits berikut:
حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ عَنْ عَامِرٍ قَالَ: سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ يَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: الْحَلَالُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ. وَبَيْنَهُمَا مُشَبَّهَاتٌ، لَا يَعْلَمُهَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ. فَمَنْ اتَّقَى الْمُشَبَّهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ كَرَاعٍ يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يُوَاقِعَهُ. أَلَا وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى، أَلَا إِنَّ حِمَى اللَّهِ فِي أَرْضِهِ مَحَارِمُهُ، أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ.
 
Telah menceritakan kepada kami Abu Nu'aim, Telah menceritakan kepada kami Zakaria dari 'Amir berkata: aku mendengar An-Nu'man bin Basyir berkata: aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Yang halal sudah jelas dan yang haram juga sudah jelas. Namun diantara keduanya ada perkara syubhat (samar) yang tidak diketahui oleh banyak orang. Maka barangsiapa yang menjauhi diri dari yang syubhat berarti telah memelihara agamanya dan kehormatannya. Dan barangsiapa yang sampai jatuh (mengerjakan) pada perkara-perkara syubhat, sungguh dia seperti seorang penggembala yang menggembalakan ternaknya di pinggir jurang yang dikhawatirkan akan jatuh ke dalamnya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki batasan, dan ketahuilah bahwa batasan larangan Allah di bumi-Nya adalah apa-apa yang diharamkan-Nya. Dan ketahuilah pada setiap tubuh ada segumpal darah yang apabila baik maka baiklah tubuh tersebut dan apabila rusak maka rusaklah tubuh tersebut. Ketahuilah, ia adalah hati". (Dikeluarkan oleh Bukhary-Muslim, dari hadits An-Nu’man bin Basyr Radhiyallahu Ta’ala ‘anhu).
  • Perkataan: فَقَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ؟, sama seperti pertanyaan shahabat sebelumnya yang menunjukkan semangatnya para shahabat Radhiyallahu Ta’ala ‘anhum untuk mengetahui perkara-perkara yang bermamfa’at bagi mereka dalam rangka untuk melaziminya dan untuk mengetahui perkara-perkara yang bisa memudharatkan mereka dalam rangka untuk memperingatkan dan menjauhinya.
  • Perkataan: حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ, menunjukkan bahwasanya cinta kepada dunia tidaklah tercela secara mutlaq kecuali jika kecintaan kepada dunia tersebut menyebabkan pelakunya mengabaikan urusan akhirat, sehingga yang demikian ini menjadi bentuk cinta dunia yang tercela, yang hanya menyebabkan pelakunya lebih dekat kepada kejelekan dan menjauhi kebaikan.
  • Penguatan sunnah dengan sunnah lainnya. Maka perkara cinta dunia dalam hadits di atas ini semisal dengan sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dalam hadits berikut:

    حَدَّثَنَا عَبْدَانُ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ وَيُونُسُ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ أَنَّهُ أَخْبَرَهُ أَنَّ الْمِسْوَرَ بْنَ مَخْرَمَةَ أَخْبَرَهُ أَنَّ عَمْرَو بْنَ عَوْفٍ وَهُوَ حَلِيفٌ لِبَنِي عَامِرِ بْنِ لُؤَيٍّ وَكَانَ شَهِدَ بَدْرًا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ أَبَا عُبَيْدَةَ بْنَ الْجَرَّاحِ إِلَى الْبَحْرَيْنِ يَأْتِي بِجِزْيَتِهَا وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُوَ صَالَحَ أَهْلَ الْبَحْرَيْنِ وَأَمَّرَ عَلَيْهِمْ الْعَلَاءَ بْنَ الْحَضْرَمِيِّ فَقَدِمَ أَبُو عُبَيْدَةَ بِمَالٍ مِنْ الْبَحْرَيْنِ فَسَمِعَتْ الْأَنْصَارُ بِقُدُومِ أَبِي عُبَيْدَةَ فَوَافَوْا صَلَاةَ الْفَجْرِ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا انْصَرَفَ تَعَرَّضُوا لَهُ فَتَبَسَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ رَآهُمْ ثُمَّ قَالَ: أَظُنُّكُمْ سَمِعْتُمْ أَنَّ أَبَا عُبَيْدَةَ قَدِمَ بِشَيْءٍ، قَالُوا: أَجَلْ يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ: فَأَبْشِرُوا وَأَمِّلُوا مَا يَسُرُّكُمْ. فَوَاللَّهِ مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنِّي أَخْشَى أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمْ الدُّنْيَا، كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ.
     
Telah menceritakan kepada kami 'Abdan, telah mengabarkan kepada kami Abdullah, telah mengabarkan kepada kami Ma'mar dan Yunus, dari Az Zuhri, dari 'Urwah bin Az Zubair dia mengabarkan, bahwa Miswar bin Al Makhramah telah mengabarkan kepadanya, bahwa 'Amru bin 'Auf (sekutu Bani 'Amru bin Lu`ai) pernah turut perang Badr bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan telah mengabarkan kepadanya: bahwa Rasulullah pernah mengutus Abu Ubaidah bin Al Jarrah ke Bahrain untuk mengambil jizyahnya. Ketika itu Rasulullah membuat perjanjian damai dengan penduduk Bahrain, beliau mengangkat Al Ala` bin Al Hadlrami sebagai pemimpin mereka. Lalu Abu 'Ubaidah datang dengan membawa harta dari Bahrain, ketika kaum Anshar mendengar kedatangan Abu 'Ubaidah, mereka lalu shalat shubuh bersama Rasulullah, seusai shalat beliau beranjak pergi, namun mereka menghadang beliau, Rasulullah kemudian tersenyum saat melihat mereka, setelah itu beliau bersabda: "Aku kira kalian telah mendengar bahwa Abu 'Ubaidah datang membawa sesuatu." Mereka menjawab, "Benar, wahai Rasulullah." Beliau bersabda: "Bergembiralah dan berharaplah terhadap sesuatu yang dapat memudahkan kalian. Demi Allah, bukan kemiskinan yang aku takutkan pada kalian, tapi aku takut dunia dibentangkan untuk kalian seperti halnya dibentangkan pada orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-loma meraihnya sebagaimana mereka berlomba-lomba, lalu dunia itu membinasakan kalian seperti halnya mereka binasa." (Dikeluarkan oleh Bukhary-Muslim, dari hadits ‘Amru bin ‘Auf Al-Anshariy Radhiyallahu Ta’ala ‘anhu).
  • Tafsir hadits: الْوَهْنُ, dengan hadits: حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ.
  • Bahwasanya takut kepada kematian tidaklah tercela secara mutlaq, kecuali jika takut kepada mati tersebut menyebabkan pelakunya gundah gaulana dan takut kehilangan akan kelezatan dunia dan disertai dengan menelantarkan urusan akhirat, maka yang demikian inilah yang tercela. Adapun jika seseorang itu mampu menjaga urusan akhiratnya, sementara ia juga memiliki tabiat takut akan kematian (takut secara tabiat/watak) maka hal ini tidak mengapa, tidak ada dosa atas hal tersebut. Sebagaimana telah datang dalam hadist qudsi berikut:

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عُثْمَانَ بْنِ كَرَامَةَ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ مَخْلَدٍ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ بِلَالٍ حَدَّثَنِي شَرِيكُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي نَمِرٍ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ

Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin 'Utsman bin Karamah telah menceritakan kepada kami Khalid bin Makhlad Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Bilal telah menceritakan kepadaku Syarik bin Abdullah bin Abi Namir dari 'Atho` dari Abu Hurairah menuturkan, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman: Siapa yang memusuhi wali-KU, maka Aku umumkan perang kepadanya, dan hamba-Ku tidak bisa mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada yang telah Aku wajibkan, jika hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan sunnah, maka Aku mencintai dia, jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang ia jadikan untuk mendengar, dan pandangannya yang ia jadikan untuk memandang, dan tangannya yang ia jadikan untuk memukul, dan kakinya yang dijadikannya untuk berjalan, jikalau ia meminta-Ku, pasti Kuberi, dan jika meminta perlindungan kepada-KU, pasti Ku-lindungi. Dan aku tidak ragu untuk melakukan sesuatu yang Aku menjadi pelakunya sendiri sebagaimana keragu-raguan-Ku untuk mencabut nyawa seorang mukmin yang ia (khawatir) terhadap kematian itu, dan Aku sendiri khawatir ia merasakan kepedihan sakitnya." (Dikeluarkan oleh Bukhary, dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu Ta’ala ‘anhu).
  • Bahwasanya wajib atas para da’i kebaikan untuk lebih memperhatikan perbaikan aqidah kaum muslimin. Karena yang demikian itu -tentunya setelah pertolongan dari Allah Ta’ala- termasuk sebab terbesar yang mendatangkan kewibawaan umat muslim pada dada musuh-musuh mereka.
  • Bahwasanya wajib atas para da’i kebaikan untuk berhati-hati dari tertipu-daya dengan banyaknya jumlah mereka, sehingga mereka mengira dengan banyaknya pengikut sebagai tanda-tanda kebaikan bagi kaum muslimin tanpa melihat kepada sifat-sifat syar’iyyah  yang terdapat pada jumlah yang banyak tersebut.
  • Bahwasanya wajib atas para da’i kebaikan untuk berhati-hati dari terjerumus kepada dunia, sehingga menyebabkan ia menelantarkan urusan akhirat. Dan kemudharatan atas apa-apa yang dilakukannya tersebut bisa berimbas kepada yang lainnya -dikarenakan seorang da’i adalah teladan bagi manusia di sekitarnya-  dan keadaan yang demikian ini akan menambah rusak keadaan sehingga sulit untuk diperbaiki lagi.
  • Bahwasanya termasuk dari sebaik-baik perkara yang bermamfa’at bagi manusia adalah memperingatkan mereka atas apa-apa yang terlalaikan oleh mereka atau atas apa-apa yang mereka kurang memperhatikannya. Seperti memperingatkan mereka akan kematian ketika terlihat mereka berlomba-lomba dalam urusan dunia.
  • Bahwasanya adanya rasa takut pada dada musuh-musuh kaum muslimin akan menambah kekuatan kepada kaum muslimin dan menambah kelemahan kepada musuh-musuh mereka. Dan dari ini wajib atas para da’i kebaikan untuk menjaga kewibawaan mereka sehingga kedudukan mereka di tengah-tengah masyarakatnya. Dan wajib atas mereka juga untuk berhati-hati dari perbuatan yang akan menjadi sebab jatuhnya kewibawaan mereka, dikarenakan yang demikian akan membuka pintu-pintu yang menyebabkan manusia meremehkan dan merendahkan keilmuan mereka. 

Untuk faedah lebih lengkap InsyaAllah Ta’ala bisa didownload di sini.
dan lanjutan faedahnya bisa didownload di sini.

Tentang kitab Arba’una Hadits fii Tarbiyah wal Manhaj ini bisa dibaca di sini.

Hadits-Hadits terkait:
Hadits no.16 – Riwayat At-Thabraani
Hadits no.17 – Riwayat At-Tirmidzi, Al-Hakim & Al-Baihaqy
Hadits no.23 – Riwayat Ahmad

 

6 komentar:

  1. Assalamu 'alykum
    jazzakallahu khoiron

    BalasHapus
  2. Wa'alaikumussalam,
    Waiyyaka wa jazzakumullahu khairan

    BalasHapus
  3. Assalamu'alaikum....
    Akh..hadits ke 29 dan selanjutnya ko ga di posting..hadits ke-14 (tidak dapat di posting)mohon di konfirm lagi..
    Syukron...
    Jazakallahu khoiron....

    BalasHapus
  4. Assalaamu'alaykum.
    Ditunggu postingan selanjutnya.

    BalasHapus
  5. Wa'alaikumussalam,
    InsyaAllah Ta'ala akh...
    Mudah-mudahan dipermudah oleh Allah Ta'ala

    BalasHapus